Jumat, 27 Maret 2015

[022] Al Hajj Ayat 011

««•»»
Surah Al Hajj 11

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
««•»»
wamina alnnaasi man ya'budu allaaha 'alaa harfin fa-in ashaabahu khayrun ithma-anna bihi wa-in ashaabat-hu fitnatun inqalaba 'alaa wajhihi khasira alddunyaa waal-aakhirata dzaalika huwa alkhusraanu almubiinu
««•»»
an di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi {981}; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang {982}. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
{981} Maksudnya: tidak dengan penuh keyakinan.
{982} Maksudnya: kembali kafir lagi.
««•»»
And among the people are those who worship Allah on the [very] fringe: if good fortune befalls him, he is content with it; but if an ordeal visits him he makes a turnabout, to become a loser in the world and the Hereafter. That is the manifest loss.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa ada pula sebagian manusia yang menyatakan beriman dan menyembah Allah dalam keadaan bimbang dan ragu-ragu; mereka berada dalam kekhawatiran dan kecemasan; apakah agama Islam yang telah mereka anut itu benar-benar dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka dunia akhirat. Mereka seperti keadaan orang yang ikut pergi perang, sedang hati mereka ragu-ragu untuk ikut itu. Jika nampak bagi mereka tanda-tanda tanda pasukan mereka akan memperoleh kemenangan dan akan memperoleh harta rampasan yang banyak, maka mereka melakukan tugas dengan bersungguh-sungguh, seperti orang-orang yang benar-benar beriman. Sebaliknya jika nampak bagi mereka tanda-tanda bahwa pasukannya akan menderita kekalahan dan musuh akan menang, mereka cepat-cepat menghindarkan diri, bahkan kalau ada kesempatan mereka berusaha untuk menggabungkan diri dengan pihak musuh.

Keadaan mereka itu dilukiskan Allah dalam ayat ini: Jika mereka memperoleh kebahagiaan hidup, rezeki yang banyak, kekuasaan atau kedudukan, gembiralah hati mereka memeluk agama Islam, mereka beribadat se khusyuk-khusyuknya, mengerjakan perbuatan baik dan sebagainya Tetapi jika mereka memperoleh kesengsaraan, kesusahan hidup, cobaan atau musibah, mereka menyatakan bahwa semuanya itu mereka alami adalah karena mereka menganut agama Islam. Mereka masuk Islam bukanlah karena keyakinan bahwa agama Islam itulah satu-satunya agama yang benar, agama yang diridai Allah, tetapi mereka masuk Islam dengan maksud mencari kebahagiaan duniawi, mencari harta yang banyak, mencari pangkat dan kedudukan atau untuk memperoleh kekuasaan yang besar. Karena itulah mereka kembali menjadi kafir, jika tujuan yang mereka inginkan itu tidak tercapai.

Pada ayat-ayat yang lain Allah SWT. menerangkan perilaku mereka:
الذين يتربصون بكم فإن كان لكم فتح من الله قالوا ألم نكن معكم وإن كان للكافرين نصيب قالوا ألم نستحوذ عليكم ونمنعكم من المؤمنين فالله يحكم بينكم يوم القيامة ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا
(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang yang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?". Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?". Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
(Q.S. An Nisa [4]:141)

Tujuan mereka melakukan tindakan-tindakan yang demikian itu dijelaskan Allah dengan ayat berikut:

إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى يراءون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(Q.S. An Nisa [4]:142)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abbas; bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan peristiwa seorang laki-laki yang datang ke Madinah dan memeluk agama Islam. Maka jika istrinya melahirkan seorang anak laki-laki dan kudanya berkembang biak, ia berkata: "Agama Islam yang kupeluk ini adalah agama yang baik". Tetapi jika istrinya melahirkan anak perempuan dan kudanya tidak berkembang biak, maka ia mengatakan: Agama Islam yang saya peluk ini adalah agama yang jelek".

Menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindak tanduk orang-orang munafik. Jika kehidupan duniawi mereka baik, mereka beribadat, sebaliknya jika kehidupan duniawi mereka tidak baik mereka tidak beribadat, bahkan mereka menyebarkan fitnah dan kembali menjadi kafir. Sedang menurut Abu Said Al Khudri Ayat ini diturunkan berhubungan dengan seorang laki-laki Yahudi yang telah masuk Islam. Kemudian matanya buta, harta bendanya habis dan anaknya mati. Ia mengira bahwa agama Islamlah yang membawa kesialan itu, lalu ia menghadap Nabi Muhammad saw. dan berkata "Agama Islam telah membawa kesialan padaku". Nabi menjawab: "Agama Islam tidak membawa sial". Ia berkata: "Sesungguhnya agama Islam yang aku anut ini belum pernah membawa kebaikan kepadaku, ia telah menghilangkan penglihatanku, hartaku, dan anakku". Berkata Rasulullah saw.: "Hai Yahudi, sesungguhnya agama Islam itu telah melebur seseorang, seperti api melebur kotoran besi, perak atau emas". Maka turunlah ayat ini.

Sekalipun ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab turunnya ayat ini, namun ketiga-tiga riwayat itu berhubungan dengan orang-orang yang masuk Islam, sedang imannya belum kuat, hatinya masih ragu-ragu. Karena itu ketiga-tiga asbabun nuzul ini tidak bertentangan maksudnya dan tidak merubah pengertian ayat.

Kemudian Allah SWT. menerangkan bahwa orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri baik di dunia, apalagi di akhirat nanti. Di dunia mereka mendapat bencana, kesengsaraan dan penderitaan lahir dan batin, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh siksa yang amat berat dengan dimasukkan ke dalam api neraka. Dan karena ketidaksabaran dan tidak tabah itu mereka akan memperoleh kerugian yang besar dan menimbulkan penyesalan selama-lamanya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi) ia ragu di dalam ibadahnya itu. Keadaannya diserupakan dengan seseorang yang berada di tepi bukit, yakni ia tidak dapat berdiri dengan tetap dan mantap (maka jika ia memperoleh kebaikan) maksudnya kesehatan dan kesejahteraan pada diri dan harta bendanya (tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana) cobaan pada hartanya dan penyakit pada dirinya (berbaliklah ia ke belakang) ia kembali menjadi kafir. (Rugilah ia di dunia) disebabkan terlepasnya semua apa yang ia harapkan dari dunia (dan di akhirat) disebabkan kekafirannya itu. (Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata) jelas ruginya.
««•»»
And among mankind there are those who worship God on a knife-edge: that is, with uncertainty in his worship — such [a person] has been likened the [knife-] edge of a mountain in his precariousness — if good [fortune] befalls him, [so that he enjoys] health and security with respect to his own self and his property, he is reassured by it; but if an ordeal befalls him, a trial or ill-health with regard to himself or his property, he makes a turnabout, that is, he reverts to disbelief, losing both this world, when what he had hoped for in it has eluded him, and the Hereafter, by [his] disbelief. That is the manifest loss.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dan Imam Muslim serta yang lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Abu Zar Al Ghiffari r.a. yang menceritakan, bahwa ayat ini,

yaitu firman-Nya,
"Inilah dua golongan (yakni golongan Mukmin dan golongan Kafir) yang bertengkar; mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka."
(Q.S. Al Hajj [22]:19)

berkenaan dengan sahabat Hamzah, sahabat 'Ubaidah, sahabat Ali ibnu Abu Thalib, dan Atabah, Syaibah, dan Walid ibnu Atabah. Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ali yang telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang kami alami, yaitu sewaktu kami melakukan duel dalam perang Badar;

ayat tersebut adalah firman-Nya,
"Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan Kafir) yang bersengketa; mereka saling bersengketa mengenai Rabb mereka..."
(Q.S. Al Hajj [22]:19)
sampai dengan firman-Nya,
"Rasailah azab yang membakar ini"
(Q.S. Al Hajj [22]:22)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of78
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=22&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#22:11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar